|
BI: Inflasi Juni Bisa Lebih Rendah
Rabu, 27 Juni 2012
Sumber : stabilitas.co.id
Jakarta - Bank Indonesia (BI) memperkirakan kondisi inflasi pada Juni merendah. Inflasi pada Juni dibayangi oleh nilai tukar yang melemah cukup dalam. Namun, kondisi tersebut dikompensasi dengan harga komoditas di pasar dunia yang cenderung turun karena krisis.
"Depresiasi belum (mempunyai peran besar pada inflasi) karena commodity price turun. "Secara keseluruhan diperkirakan semua akan lega karena tekanan harga komoditas melemah, termasuk minyak," ujar Deputi Gubernur Bank Indonesia Hartadi A Sarwono yang ditemui di pembukaan Indonesia Bangking Expo 2012, Rabu (27/6).
Dibanding dengan kekhawatiran imported inflation, Hartadi justru mengatakan, bank sentral lebih mengawasi perkembangan permintaan dan penawaran yang ada di dalam negeri. "Kita harus hati-hati lihat demand-nya karena pertumbuhan ekonomi domestik dari konsumsi yang cukup tinggi. Ini harus dipenuhi dengan supply. Kalau tidak, harga akan menjadi mahal. Ini membuat inflasi meningkat," papar Hartadi.
Ia juga menambahkan, bank sentral terus memantau permintaan yang meningkat menjelang memasuki bulan puasa. Tak hanya konsumsi, peningkatan permintaan juga dapat terjadi karena pertumbuhan investasi. "Kalau peningkatan supply lebih cepat dari demand, ini membahayakan ekonomi. Bisa jadi tidak sustainable," katanya.
Sejauh ini, BI masih memperkirakan dapat menjaga inflasi pada kisaran target, yakni 3,5-5,5%. "Kecenderungannya makin terkendali ke bawah," tambah Hartadi. Hartadi menolak menyampaikan prediksi inflasi Juni.
Kekhawatiran imported inflation muncul setelah beberapa waktu terakhir rupiah bergerak melemah pada Rp 9.474 per dolar AS. Kurs tengah BI kemarin mencatat rupiah berada di Rp 9.475 per dolar AS. Depresiasi tersebut dapat berdampak pada inflasi lewat produk impor.
Ditemui terpisah, Wakil Menteri Keuangan Mahendra Siregar mengaku pemerintah belum berencana untuk membuat aturan untuk membendung impor. "Harus dilihat lagi. Kalau kebutuhan investasi harus hati-hati. Karena kalau kita intervensi, ini bisa mengganggu momentum pertumbuhan ekonomi," kata Mahendra ditemui di perhelatan yang sama.
Kondisi impor yang deras sementara ekspor yang melemah akibat krisis dunia telah mengakibatkan surplus neraca perdaganga Indonesia tergerus. Transaksi berjalan pada neraca pembayaran Indonesia (NPI) bahkan sudah negatif sejak kuartal terakhir tahun lalu. Defisit tersebut ikut menekan nilai tukar karena mempengaruhi profil ekonomi Indonesia.
Namun demikian, Mahendra meyakini kondisi ekonomi Indonesia masih cukup baik. "Kalau saya melihatnya tidak mau sepotong-sepotong. Kalau kecenderungannya seperti ini, kita tidak perlu khawatir berlebihan," tukasnya.
|